Hm… kali ini aku mau cerita tentang makanan. Dan karena aku tinggal di Aceh jadi pokok bahasan kali ini adalah…. *taramm… BIKA AMBON.. loh?? Itu dari Medan ya? Oke, diulang. Pokok bahasan kali ini adalah….*taramm… MPEK-MPEK… loh? Salah lagi…Oke, aku coba sekali lagi. Pokok bahasan kali ini adalah… *tringg..tringg.. MIE ACEH…- hore.. benaarrr..!! *idiot*
Bagi yang berdomisili di Medan, mie jenis ini bisa dinikmati di TITI BOBROK. Di Jl. Setia Budi. Kalo dari kampus USU naik Rahayu 120 atau Mitra 63 juga nyampe. Ngga pake nyambung. Langsung turun di depannya. Kalo bingung, pas mau naik sudaco-nya bilang sama Abang Supirnya gini “Bang.. turun di Titi Bobrok ya..” Ngomongnya ngga perlu manja-manja, ga perlu sok manis, biasa aja.. kalo bisa dengan nada dasar C = Do..
Oke, kita lanjut ke masalah MIE ACEH.
Dulu pas makan MIE ACEH di Medan, rasanya uda enak kali. Tapi begitu makan di Banda Aceh, ternyata yang di Medan ngga ada apa-apanya. Pas pertama nyampe di Aceh, aku diajak makan MIE ACEH di daerah Peunayong. Namanya MIE ACEH RAZALI. Disitu, yang paling ditawarkan adalah MIE ACEH Kepiting dan MIE ACEH Udang. Mie-nya disajikan dalam bentuk mie goreng, mie rebus atau basah (ngga terlalu kering dan basah). Dan yang pasti pake kepiting atau udang, sesuai selera pilihan kita.. untuk ukuran dalam kota Banda Aceh, MIE RAZALI ini cukup terkenal. Mereka punya dua cabang pembantu (kayak Bank aja). Keduanya dipastikan ramai pengunjung. Terlebih di akhir pekan. Tapi ternyata, tak disangka dan tak diduga ada tempat makan MIE ACEH lagi yang lebih tersohor. Lokasinya di daerah Pantai Lampuuk, sebelum Pantai Lhoknga. Ini adalah salah satu daerah yang hancur diterpa Gelombang Tsunami. Orang-orang sering menyebutnya Mie Kepiting Lampuuk. Sekitar 20 – 30 menit dari kota Banda Aceh. Lokasi warung tempat Mie Kepiting di Lampuuk ini kurang lebih sekitar 200 meter dari garis pantai. Dan disekeliling bangunan Warung Mie tersebut masih kosong. Yang ada hanya sisa puing bangunan rumah yang hancur karena Tsunami. Warung ini saja hanya bersisa lantai keramiknya. (tapi kini sudah mulai dibangun kembali) Paling sekitar 2 bulan terakhir, sudah mulai berdiri beberapa bangunan rumah bantuan dari NGO lokal atau internasional (sepertinya). Secara otomatis, kita ngga akan kesulitan mencari lokasi Warung Mie Kepiting ini. Sebenarnya konsep Mie –nya sama seperti Mie Aceh Razali, Mie Aceh Titi Bobrok (di Medan). Tapi Mie Aceh yang di Lampuuk ini benar-benar lain. Kira-kira rasanya gabungan antara pedas, sedikit manis, dan rempah-rempah asli rahasia leluhur bangsa… . Kuahnya kental, warnanya menggoda, aromanya menggairahkan, udangnya besar-besar, kepitingnya apalagi.. Duh, pokoknya mantap lah.. Aku aja yang badannya kurus tapi seksi ini (tetep..) dan ngga doyan makan ini selalu menghabiskan dua piring Mie Aceh Udang. Perkara berapa banyak pengunjung yang datang, jangan tanya. Kenapa Wira? Karena aku ngga tau. Hehe.. Waarung yang beromzet harian sekitar 5 jutaan ini (what?!) selalu dipenuhi pengunjung setiap hari. Terlebih Sabtu Minggu. Berderet mobil terpakir sepanjang jalan. Mulai dari warga lokal, pendantang, turis, relawan, semuanya hinggap disini. Pokoknya bagi siapa aja yang bertandang ke Banda Aceh, wajib mencicipi Mie ini atau akan dikenakan sanksi CAMBUKK.. Warung Mie Kepiting ini juga dibahas di Majalah Tempo di Edisi akhir tahun kemaren. Hebat kan..
Kalau ada tamu kantor yang datang dari luar Aceh, kita selalu ajak kemari. Tanggapan mereka berbeda-beda. Tapi intinya sama semua. ENAK!
Kira-kira begini tanggapan mereka.
Dewi IT - Medan. (sebelumnya sudah pernah makan Mie Razali)
“Subhanallah… enaknya.. Mie Razali ngga ada apa-apanya..”
Beno – Schlumberger, Jakarta.
“Busyet dah, anjir.. enak banget. Gue kagak pernah makan mie seenak gini.” (walau hidup di Jakarta, ybs adalah anak kost yang sehari-hari cuman makan mie instan. Maklum..!)
Bang Daniel – Medan.
“Diam lah muncung kau.. Aku lagi enak-enak makan, kau tanyak-tanyak pulak. Macam wartawan saza kauw… “ (ketika itu ybs sedang menyantap piring ketiga..)
Betty Savana – Banci Penata rias pengantin, Medan.
“Ya ampyunn.. endang bangau nek… akika mawar nambah bolelebo ya bo’..” (artinya kira-kira enak dan pingin nambah. Diucapkan dengan tangan keriting sambil melintir rambut..) – dasar banci, tampang aja sok keibuan. Lambung, tukang becak..
Andi – Auditor, Jakarta
Mantap. Maaf, saya cuman bisa kasi rekomendasi seperti itu. Untuk lengkapnya anda harus menyertakan Berita Acara dan kelengkapan atributnya untuk kepentingan Internal Control.. (ampun.. auditor…)
Demikian kira-kira komentar orang ketika ditanya kesan tentang Mie Kepiting Lampuuk. Inti dari komentar mereka tetep sama. ENAK! Pokoknya wajib cicip bagi siapa aja yang ke Banda Aceh. Kalo ngga makan Mie ini, jangan pernah ngaku pernah ke Banda Aceh. Hehehe…