19. MAINAN BARU (dambaan hati)

July 24th, 2006

Hmm… Wira kemana aja?? Hilang? Ngga kan? Ngga lah.. Aku masih ada. Aku masih tetep bekerja. Ya, bekerja keras, membanting tulang, mengais rejeki, lembur sana lembur sini. Yang ujung-ujungnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah demi UANG.. Ha?? Kok sekarang aku money oriented gini yak? bukan itu maksudnya. Tapi kan namanya juga orang kerja. Buat apa? Cari duit kan? Masa cari jodoh? (bisa juga sih sebenarnya) atau kerja cari wangsit?? Hmmm.. kalo pekerjaan yang terakhir, diduga pekerjaannya yang berhubungan dengan klenik atau gaib-gaib deh. Misalnya : Penjaga kuburan, juru kunci makam raja-raja, atau penjual kembang dekat kuburan..Ih.. seram ah..

ini Kamera ku...

Oke, balik ke topik awal. Memang, yang pasti sekarang ini aku butuh “dana”. Ngga terlalu besar sih tapi lumayan besar lah. Nah, untuk apakah dana itu sodara-sodara?? *jengg-jenggg.. * adalah untuk membayar kartu Kredit. Terpakai buat beli apakah Kartu Kredit tersebut permirsa tercinta?? *taddaaaa….* ya, aku kemaren baru beli kamera DSLR baru. Ini adalah bagian dari cita-citaku. Beli kamera digital yang bermoncong panjang trus bisa diputer-puter biar kesannya kayak fotografer profesional. Memang, ini berkaitan dengan hobi ku yang beberapa tahun ini berhasil aku gali dari dalam diriku. Hobi yang mungkin diturunkan dari Bapakku. Hobi yang selalu membuatku mengabadikan setiap moment yang terjadi di dunia sekitarku. Hobi yang bisa membunuh waktu luangku. Yaitu.. bercocok tanam. Loh?? Salah, maksudnya adalah hobi mencoba resep baru.. hehe, keleruu.. Jadi hobiku itu yang baru adalah Poto-poto, jepret sana-jepret sini, atau bahasa kerennya Fotografi gitu loh.. Baca terus yuukk.. Read the rest of this entry »

18. (lanjutan) Tentang Merokok..

June 7th, 2006

Yup, kemaren aku sempat mosting tentang Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Memang sih, itu copy paste setelah blog walking dan singgah sebentar di blog nya Priyadi.
Dari sanalah saya membawa oleh-oleh berupa seikat tulisan tentang Hari Tanpa Tembakau tersebut, sekarung beras Cianjur, sekilo Jeruk dan sesisir Pisan Kepok.. Trus, aku di trek bek sama mas Priyadi itu. Secara sampe sekarang aku masih ngga ngerti apa itu trek bek. Kemaren uda dikasi tau si Abe artinya. Aku angguk-angguk pura-pura ngerti. Padahal ngga ngerti. Sengaja pura-pura ngerti, karena Abe menjelaskan sambil melakukan hal yang mengerikan, sadis, tidak berperikewanitaan, menjijikkan dan tidak bisa diterima akal sehat. Yaitu menjelaskan sembari menggaruk pa***t dan ngorek hidung, yang dilakukan secara medley.. *aarrggghhh……..howeeekkkk!!

Oke, kita balik ke masalah rokok. Hmm.. memang, semua orang tau kalo rokok cuman buat penyakit. Coba saja kalau kita jumpa atau berpapasan dengan seorang perokok. Setelah kita menyapa nya (menyapa perlu dilakukan agar terkesan lebih akrab), cobalah kamu tanya si perokok tersebut. Ingat, cukup kamu tanya, jangan sampe si perokok tersebut kamu tampar, kamu sepak atau kamu sundut pake rokok. Bahaya.. Yak.. coba kamu tanya sama si perokok itu, ngerti ngga dia kalo merokok itu ngga baik buat kesehatan. Pasti dia tau, ngerti, dan faham luar batok kepala kalo rokok itu berbahaya. Tapi herannya kenapa tetap dilakukan ya? Itulah dia. Tiap orang punya masing-masing alasan kenapa dia merokok. Ada yang buat mengundang ide atau inspirasi, buat gaya, ikut-ikutan, penghilang stres dan rupa-rupa lainnya.

Trus kalo aku sendiri, kenapa aku merokok??
Memang aku perokok. Marlboro kesukaanku. Selalu pilih yang Light. Kalo lagi ngga enak tenggorokan, aku berpaling ke yang Menthol (tapi tetep Marlboro). Tapi aku ngga merasa sebagai perokok berat. 1 bungkus habisnya paling 2 hari. Tapi grafik pemakaiannya (*halahh..) akan naik bila aku begadang, atau kegiatan ngga gitu banyak. Jadi kalo pas di rumah, banyak merokok tapi kalo pas di kantor.. banyak juga… hehehe…
Apa yang aku rasakan pas merokok? Ketenangan. Ya, jawabnya adalah ketenangan… Bagi aku, ketika aku menghisap batang rokok tersebut, ketika otot-otot mulut ini berkontraksi dan melakukan transfer asap serta gas-gas beracun dari batang Marlboro tersebut ke mulut (duhh.. bahasanya..). Detik-detik tersebut adalah detik-detik dimana aku melupakan segala masalah, segala yang ada di pikiranku. Karena pada detik-detik tersebut pikiranku terkonsentrasi ke my beloved Marlboro.. Detik-detik yang berharga (bagiku) ketika aku sedang penat a.k.a suntuk tentunya.. Nah.. itu alasanku..

Nah, kalo ditanya mulai kapan aku merokok? Kapan ya? sebenarnya dari jaman SMP uda mulai curi-curi. Tapi jarang lah. Trus, pas SMU masih nyolong-nyolong juga. Pas Kuliah uda mulai agak sering. (dulu rokokku Sampoerna Mild). Tapi masih ga berani merokok kalo di depan keluarga. Takut.. Terbayang sosok bapak ku yang memegang CEMETI.. *cetarrrrrrr……….. neng..nong…neng..nong… (Sebentar, memangnya aku Kuda Lumping, ada cemeti dan suara Gamelan..?? :-( )
Nah baru pas uda masuk kerja, merokok makin sering (dan aku berpaling ke Marlboro). Dan aku berani merokok di depan keluarga. Heeheeh.. (akhirnya..). Alkisah, keluarga ku sedang didera masalah. Masalah yang klasik, itu-itu aja, pelik dan (sebenarnya) malas dibahas. Jadi waktu itu, kita masing-masing uda kasi pendapat tapi masih stuck atau kalo ngambil istilah di Parlemen DEAD LOCK lah… Terasa penat di kepala. Iseng, aku ambil rokok dan korek api. Trus,,, aku tidur.. Loh?? salah.. trus aku bakar dan terjadilah teori DETIK-DETIK sperti yang aku jelaskan di atas. Awalnya sodara-sodaraku pada kaget. Beberapa malah sempat sesak napas dan mata berkunang… Serasa tidak percaya akan apa yang terjadi..Cuman bapakku yang (malah) ngga kaget. Ternyata dia maklum. Katanya wajar.. kan aku uda cari uang sendiri. (Duh, aku kok jadi teringet dia ya.. hehe.. agak terharu.. Kira-kira dia lagi apa ya? kira-kira dia lagi jalan kemana ya sama istri barunya itu..) Jadi, itu lah titik balik aku merokok secara resmi.


Kemaren cuman aku sendiri yang merokok Marlboro. Terakhir, sobat-sobat ku pada ngikut hijrah ke Marlboro. Pertimbangannya karena kadar nikotinnya lebih rendah (tapi ya tetep aja beracun). Sebut saja Firman, Abe Poetra, Fajri merekalah salah tiga diantara temen-temenku yang pindah ke MArlboro..
Jadi walaupun aku ngga bisa melarang orang untuk merokok. Paling ngga kadar racun yang masuk agak berkurang karena kadar Nikotinnya rendah..

Hidup yang ngga merokok..(idoopp…!!!)

17. Tembakau: Berbahaya Dalam Bentuk dan Samaran Apapun

May 31st, 2006

Hari Tanpa Tembakau Sedunia

Sehubungan dengan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2006
yang jatuh pada tanggal 31 Mei 2006, maka kami, penulis blog
yang peduli dengan masalah ini, bermaksud untuk memperingatkan
kita semua akan bahaya tembakau:

1. Memperingatkan kita semua bahwa tembakau BERBAHAYA DALAM
BENTUK APAPUN. Rokok, rokok pipa, bidi, kretek, rokok
beraroma cengkeh, snus, snuff, rokok tanpa asap, cerutu…
semuanya berbahaya.

2. Memperingatkan kita semua bahwa tembakau dalam jenis, nama
dan rasa apapun sama bahayanya. Tembakau BERBAHAYA DALAM
SAMARAN APAPUN. Mild, light, low tar, full flavor, fruit
flavored, chocolate flavored, natural, additive-free, organic
cigarette, PREPS (Potentially Reduced-Exposure Products),
harm-reduced… semuanya berbahaya. Label-label tersebut
TIDAK menunjukkan bahwa produk-produk yang dimaksud lebih aman
dibandingkan produk lain tanpa label-label tersebut.

3. Menuntut Pemerintah Republik Indonesia untuk sesegera
mungkin meratifikasi WHO Framework Convention on Tobacco
Control (WHO FCTC) demi kesehatan penerus bangsa. Indonesia
adalah satu-satunya negara di Asia yang belum menandatangani
perjanjian Internasional ini.

Internet, 31 Mei 2006

Tertanda,

- wira de_Broto -

16. MIE ACEH

February 20th, 2006


Hm… kali ini aku mau cerita tentang makanan. Dan karena aku tinggal di Aceh jadi pokok bahasan kali ini adalah…. *taramm… BIKA AMBON.. loh?? Itu dari Medan ya? Oke, diulang. Pokok bahasan kali ini adalah….*taramm… MPEK-MPEK… loh? Salah lagi…Oke, aku coba sekali lagi. Pokok bahasan kali ini adalah… *tringg..tringg.. MIE ACEH…- hore.. benaarrr..!! *idiot*

Bagi yang berdomisili di Medan, mie jenis ini bisa dinikmati di TITI BOBROK. Di Jl. Setia Budi. Kalo dari kampus USU naik Rahayu 120 atau Mitra 63 juga nyampe. Ngga pake nyambung. Langsung turun di depannya. Kalo bingung, pas mau naik sudaco-nya bilang sama Abang Supirnya gini “Bang.. turun di Titi Bobrok ya..” Ngomongnya ngga perlu manja-manja, ga perlu sok manis, biasa aja.. kalo bisa dengan nada dasar C = Do..
Oke, kita lanjut ke masalah MIE ACEH.

Dulu pas makan MIE ACEH di Medan, rasanya uda enak kali. Tapi begitu makan di Banda Aceh, ternyata yang di Medan ngga ada apa-apanya. Pas pertama nyampe di Aceh, aku diajak makan MIE ACEH di daerah Peunayong. Namanya MIE ACEH RAZALI. Disitu, yang paling ditawarkan adalah MIE ACEH Kepiting dan MIE ACEH Udang. Mie-nya disajikan dalam bentuk mie goreng, mie rebus atau basah (ngga terlalu kering dan basah). Dan yang pasti pake kepiting atau udang, sesuai selera pilihan kita.. untuk ukuran dalam kota Banda Aceh, MIE RAZALI ini cukup terkenal. Mereka punya dua cabang pembantu (kayak Bank aja). Keduanya dipastikan ramai pengunjung. Terlebih di akhir pekan. Tapi ternyata, tak disangka dan tak diduga ada tempat makan MIE ACEH lagi yang lebih tersohor. Lokasinya di daerah Pantai Lampuuk, sebelum Pantai Lhoknga. Ini adalah salah satu daerah yang hancur diterpa Gelombang Tsunami. Orang-orang sering menyebutnya Mie Kepiting Lampuuk. Sekitar 20 – 30 menit dari kota Banda Aceh. Lokasi warung tempat Mie Kepiting di Lampuuk ini kurang lebih sekitar 200 meter dari garis pantai. Dan disekeliling bangunan Warung Mie tersebut masih kosong. Yang ada hanya sisa puing bangunan rumah yang hancur karena Tsunami. Warung ini saja hanya bersisa lantai keramiknya. (tapi kini sudah mulai dibangun kembali) Paling sekitar 2 bulan terakhir, sudah mulai berdiri beberapa bangunan rumah bantuan dari NGO lokal atau internasional (sepertinya). Secara otomatis, kita ngga akan kesulitan mencari lokasi Warung Mie Kepiting ini. Sebenarnya konsep Mie –nya sama seperti Mie Aceh Razali, Mie Aceh Titi Bobrok (di Medan). Tapi Mie Aceh yang di Lampuuk ini benar-benar lain. Kira-kira rasanya gabungan antara pedas, sedikit manis, dan rempah-rempah asli rahasia leluhur bangsa… . Kuahnya kental, warnanya menggoda, aromanya menggairahkan, udangnya besar-besar, kepitingnya apalagi.. Duh, pokoknya mantap lah.. Aku aja yang badannya kurus tapi seksi ini (tetep..) dan ngga doyan makan ini selalu menghabiskan dua piring Mie Aceh Udang. Perkara berapa banyak pengunjung yang datang, jangan tanya. Kenapa Wira? Karena aku ngga tau. Hehe.. Waarung yang beromzet harian sekitar 5 jutaan ini (what?!) selalu dipenuhi pengunjung setiap hari. Terlebih Sabtu Minggu. Berderet mobil terpakir sepanjang jalan. Mulai dari warga lokal, pendantang, turis, relawan, semuanya hinggap disini. Pokoknya bagi siapa aja yang bertandang ke Banda Aceh, wajib mencicipi Mie ini atau akan dikenakan sanksi CAMBUKK.. Warung Mie Kepiting ini juga dibahas di Majalah Tempo di Edisi akhir tahun kemaren. Hebat kan..

Kalau ada tamu kantor yang datang dari luar Aceh, kita selalu ajak kemari. Tanggapan mereka berbeda-beda. Tapi intinya sama semua. ENAK!
Kira-kira begini tanggapan mereka.

Dewi IT - Medan. (sebelumnya sudah pernah makan Mie Razali)
“Subhanallah… enaknya.. Mie Razali ngga ada apa-apanya..”

Beno – Schlumberger, Jakarta.
“Busyet dah, anjir.. enak banget. Gue kagak pernah makan mie seenak gini.” (walau hidup di Jakarta, ybs adalah anak kost yang sehari-hari cuman makan mie instan. Maklum..!)

Bang Daniel – Medan.
“Diam lah muncung kau.. Aku lagi enak-enak makan, kau tanyak-tanyak pulak. Macam wartawan saza kauw… “ (ketika itu ybs sedang menyantap piring ketiga..)

Betty Savana – Banci Penata rias pengantin, Medan.
“Ya ampyunn.. endang bangau nek… akika mawar nambah bolelebo ya bo’..” (artinya kira-kira enak dan pingin nambah. Diucapkan dengan tangan keriting sambil melintir rambut..) – dasar banci, tampang aja sok keibuan. Lambung, tukang becak..

Andi – Auditor, Jakarta
Mantap. Maaf, saya cuman bisa kasi rekomendasi seperti itu. Untuk lengkapnya anda harus menyertakan Berita Acara dan kelengkapan atributnya untuk kepentingan Internal Control.. (ampun.. auditor…)

Demikian kira-kira komentar orang ketika ditanya kesan tentang Mie Kepiting Lampuuk. Inti dari komentar mereka tetep sama. ENAK! Pokoknya wajib cicip bagi siapa aja yang ke Banda Aceh. Kalo ngga makan Mie ini, jangan pernah ngaku pernah ke Banda Aceh. Hehehe…

15. Me VS si Bapak Penjual Nasi Goreng

January 20th, 2006

Kemaren, Kamis malam, tepatnya malam malam. Kan ngga mungkin siang. Ketika itu hujan rintik rintik (kok kayak lagu..), serta merta rasa lapar datang mendera diriku..Apakah arti ini semua? Artinya ya pengen makan, masa pengen tidur? goblok..!! Kulirik jam di dinding. Ha!! Tidak ada jam? Kenapa? Karena memang aku ngga punya jam dinding. Akhirnya kulirik jam di tangan. Ternyata jam 9 malam. Sudah telat makan rupanya. Daripada kelaparan, akhirnya kuputuskan untuk keluar cari makanan. Saaaapppp…..… dengan Shogun merah-ku, aku langsung cabut cari makanan. Setelah sedikit bingung mau menentukan makan malam apakah yang pantas disantap kali ini, akhirnya aku putuskan untuk membeli nasi goreng. Segera lah aku pergi ke tukang nasi goreng dengan keyakinan kamar kos sudah terkunci, dompet ada di kantong dan pergi dengan motor milik sendiri bukan milik orang lain.

Maka tibalah aku di tempat tukang nasi Goreng. Setelah sedikit bercanda dengan si Bapak Penjual Nasi Goreng, aku minta dibungkuskan satu porsi nasi goreng pakai telur dadar dan mata sapi. Hehehe.. terkesan rakus ngga? Ngga kan? Oke lanjut.. Selesai di bungkus, aku tanya ke dia..
Aku : “Padum, Pak?” (dalam bahasa aceh artinya ‘berapa?’)
Tkg Nasgor : “sembilan ribu..”
(mahal juga ya…-dalam hati membathin..)
Aku: Rogoh kantong kiri depan, ada kunci cakram. Coba rogoh kantong kanan depan, ada kunci kamar kos dan beberapa carik uang kertas. Kuambil uang nya dan kuhitung. Cuman Tujuh ribu..Kurang dua ribu. Kurogoh lagi kantong belakang kiri. Ngga ada terasa lembaran uang kertas. Yang ada cuman lemari es, kasur, ember dan panci..Nggaklah..Kantong kiri kosong. Nah, pas mau rogoh kantong belakang kanan, tempat aku biasa naruh dompet, ternyata.. (jengg..jengg..) pantat ku terasa tepos, alias dompetnya ngga ada. Ternyata aku ngga bawa DOMPET, sodara sodara…..Aku agak panik. si Bapak Penjual Nasi Goreng membaca gelagatku dengan seksama. “kenapa Dik?” tanyanya. Dengan berat hati akhirnya aku jujur. “Wah, maap Pak, dompet saya tertinggal. Yang ada cuman tujuh ribu. Ya uda, telurnya satu aja. Uangnya kurang..” Agak takut juga menunggu jawaban si Bapak Penjual Nasi Goreng.. “Ya uda ga pa-pa.. tujuh ribu aja. Kan sama-sama orang sini..Kita kita aja kok..” kata si Bapak Penjual Nasi Goreng dengan penuh bijaksana dan legowo.. aku langsung girang bak mendapatkan Piala Citra untuk kategori Artis Pelupa Pendatang Baru.. Aku langsung ngucapin terima kasih sama si Bapak Penjual Nasi Goreng. Dan langsung pulang. Sampe di Kos, aku lagsung makan, terus minum, lalu cuci kaki dan tangan, dan pergi tidur… zzzZZZZzzzzZzz…
Dalam tidur aku bermimpi. Bertemu dengan si Bapak Penjual Nasi Goreng. Tapi wujudnya Peri gitu. Pake baju putih. Tapi ada yang ngga pas. Disitu dia tetep dorong dorong gerobak nasi goreng.. Kan ngga matching aja.. Peri kok ya bawa gerobak sambil pegang Sutil.. harus nya kan pegang tongkat ajaib. Aneh..

Malam Berikutnya..
Sudah sejak di kantor aku uda niat. Kalo ini malam bakal balik ke si Bapak Penjual Nasi Goreng untuk beli Nasi Goreng lagi sekalian pingin bayar kekurangan kemaren walaupun uda diikhlasin si Bapak Penjual Nasi Goreng. Pulang dari, masih dengan Shogun-ku, aku langsung singgah di tempat si Bapak Penjual Nasi Goreng jualan. Pas nyampe disitu, yang jualan beda. Bukan dia. Yang ini lebih muda. Ngga masalah, ku pikir. Aku langsung pesan menu yang sama. Nasi goreng pake telur dadar dan Mata sapi seharga 9 ribu. Dan aku uda nyiapin uang 11 ribu, sekalian buat nambah kekurangan kemaren malam.. Selesai dia membungkus, aku tanya harganya.. “Padum bang?” (berapa bang?). Dengan hati hati dan penuh percaya diri, si Abang berkata ..Pake telur dadar dan mata sapi, jadi semuanya…6 ribu saja
*cling..!* aku agak kaget. ANJROOTTT… kenapa cuman beda sehari harganya bisa berganti yakk?? Kalo gitu.. Aku langsung celingak celinguk cari si Bapak Penjual Nasi Goreng yang kemaren malam. Dalam hati –Bapakk… sampeyan hutang sama aku 2 ribooo………..Sialan… kupikir si Bapak Penjual Nasi Goreng uda kayak peri penyelamat. Tapi nyatanya dia uda ngebohongin aku.. Langsung ku bayar pake uang pas. Dan cabut pulang…
Malam nya aku kembali bermimpi. Dan masih si Bapak Penjual Nasi Goreng sebagai bintang utamanya. Tapi kali ini dia seperti pemburu. Dengan hasil tangkapan seekor rusa yang diinjak dengan kakinya. Si Pemburu tertawa bangga. Si rusa?? Hehe.. wajah nya mirip aku.. Heheh..

Pesan Kakek :
- Jangan terlalu yakin dengan kebaikan orang.. hati-hati..
- Pastikan kalo keluar rumah bawa dompet.
- Dompetnya pun harus dompet sendiri. Jangan dompet orang lain.